Masih Pantaskah Pemuda Islam Saat ini menjadi Pelurus Bangsa ?

Kurnia Puspita Sari
Selasa, 28 Juni 2016 Share
Masih Pantaskah Pemuda Islam Saat ini menjadi Pelurus Bangsa ?

Kurnia Puspita sari, Mahasiswa Programn Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2015 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta.

WAWASAN PROKLAMATOR,- Pelajar merupakan anak didik bangsa sebagai bibit dari generasi bangsa itu sendiri. Pelajar sebagai cikal bakal penerus bangsa menjadi tolak ukur apakah jaya atau tidaknya suatu bangsa tersebut. Namun sangat disayangkan cikal bakal tersebut kini telah tercemar oleh banyak hal.Pelajar yang seharusnya bisa meningkatkan kejayaan islam, nyatanya bertindak bodoh karena banyaknya waktu yang berharga dibiarkan begitu saja. Gejolak globalisasi yang kian menggiurkan membuat sikap pelajar masa ini dari hari ke haripun kian menurun, pergaulan bebas juga menjadi aspek terpenting yang harus diperhatikan. Harga diri seorang wanita kini mesti dipertanyakan kemana perginya.

Sering kali ditemukan pelajar yang bukan mahramnya berdua-duaan hilir mudik, pegangan tangan tak kenal hijab, semua ini semakin hari semakin tak karuan. Mereka tidak memikirkan hijab yang terpikir oleh mereka hanyalah hawa nafsu syetan. Mereka tak takut lagi dengan dosa, dosa bagi mereka hanyalah iming-iming janji tuhan belaka untuk menjalani kehidupan selanjutnya di akhirat nanti.

Berbagai penyakit pemuda islam pada saat ini, diantaranya pergaulan bebas, frustasi akibat putus cinta dan berakhir bunuh diri. Pergaulan bebas adalah awal dari permasalahan para pelajar. Tidak jujur, lain halnya jika kita sering mendengar kata galau tidak heran kata itu sering dipopulerkan oleh para pelajar zaman sekarang. Contohnya saja jika pada saat penerimaan rapor semester nilainya tidak sesuai dengan yang diharapkan sering kali mengatakan aku galau nich, hingga di facebooklah menjadi wadah untuk mengumbarkan suasana hatinya, drop dan patah semangat serta putus asa. Padahal jika kita kaji secara ilmiah pelajar tersebut ternyata tidak belajar secara sungguh – sungguh namun kata yang terlontar dari mulutnya mengapa tuhan tak adil kepadaku ?

Jika kita hayati dengan seksama betapa banyak dosa yang telah dibuatnya putus asa, kufur nikmat dan pengumpat betapa banyak dosa yang telah dilakukannya. Itu semua terjadi karena banyak pelajar yang tidak ingat lagi tentang dosa. Anehnya sistem belajar yang kian hari makin merosot. Contohnya pada saat UH (Ulangan Harian) banyak ditemukan siswa yang mencontek, pada saat ujian UN (Ujian Nasional) kerap ditemukan kecurangan pada saat penyelenggaraannya yaitu dengan dibagikannya selembaran kunci jawaban yang tidak sepantasnya dibagikan demi tercapainya kesuksesan dalam UN. Kecurangan juga terus berlanjut pada saat masuk kuliah/sekolah favorit ditemukan adanya kasus penyogokan oleh oknum tertentu. 

Jika dipikirkan secara islamiah betapa hina diri seorang pelajar islam yang setiap kali hidupnya dihantu-hantui oleh bayangan dosa yang tiada hentinya dilakukan. Seharusnya pelajar islam bisa menjadi pelajar yang jujur bukan menjadi oknum kriminal tidak heran jika para pemimpin banyak yang korupsi itu adalah akibat dari sistem yang tidak jujur, tidak heran jika bangsa indonesia kalah saing dengan bangsa luar yang bisa mengoptimalisasikan SDA dengan SDM-nya yang berkualitas tinggi. Hal tersebut tidak bisa kita pungkiri itu adalah fakta yang terjadi pada saat sekarang ini.

Hal tersebut jika kita pandang dari sisi ilmu pengetahuan, padahal dulunya islam sempat jaya banyak ahli-ahli ternama dari para cendikiawan islam, namun hari ini apa yang terjadi? . Para cendikiawan yang seharusnya bisa meningkatkan kejayaan islam malah terlena dengan kejayaannya yang dengan bangganya menyombongkan diri dengan tidak belajar, tidak menggali potensi, hal tersebut merupakan faktor utama dari penurunan kejayaan dibidang ilmu pengetahuan.

Pelajar  memiliki tanggung jawab yang sangat besar bagi dirinya dan oranglain, namun kepercayaan haruslah dilandasi dengan kerja keras dan doa. Namun banyak ditemukan kasus penyalahgunaan narkoba akibat depresi karna usahanya tidak sebanding dengan hasil yang diharapkannya. Ditinggalkan sang pujaan hati juga pemicu meningkatnya kasus ini yang berujung pada jurang kesengsaraan. Narkoba dijadikan alat untuk bersenang-senang sebagai wadah pelampiasan kekecewaan, tidak heran jika banyak pelajar islam yang kalah saing dengan pelajar non islam hal itu dikarenakan oleh sikap pelajar itu.

Survei membuktikan banyaknya pembangunan mesjid namun tidak diiringi dengan penambahan jamaah mesjid, yang kian hari makin berkurang. Kebanyakan yang meramaikan mesjid adalah nenek- nenek dan kakek-kakek yang mereka kenal dengan istilah camat alias calon mati, gengsi adalah kata yang tepat untuk mengatakan sikap mereka. Mereka merasa gengsi jika pergi ke mesjid, mesjid bagi mereka hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang telah tua.

Beginikah anggapan para penerus bangsa? Nauzubillah, bisa kita melihat fenomena alam yang terjadi pada saat sekarang ini gempa yang melanda Sumatera Barat, Tsunami di Aceh, dan kebakaran yang terjadi di Riau. Itu telah menjadi saksi betapa murkanya Allah. Contohnya saja pada saat perayaan pesta tahun baru, yang jelas-jelas bukan kebudayaan islam betapa banyak pelajar islam yang merayakan hal tersebut yang jelas-jelas banyak mudarat yang diperoleh. Laki-laki bebas berdua-duaan dengan wanita hingga larut malam tidak memikirkan akibat dari perbuatannya.

Namun pada saat memperingati isra miraj  mengapa sedikit sekali yang hadir, dan kemungkinan yang hadir adalah orang tua-tua saja. Sikap para pelajar yang bisa kita sebut pelajar islam atau bisa dikenal penerus bangsa semakin hari akhlaknya semakin menurun, terlebih gerakan dalam meramaikan mesjid. Suatu tanda tanya besar bagi penerus islam mau dikemanakan islam? Tidakkah terbesit dihati para pelajar islam untuk menjayakan lagi islam sampai ke seluruh dunia. Tidakkah penerus bangsa menginginkan kenikmatan dunia dan akhirat. Mengapa hanya dunia yang dipikirkan oleh mereka.

Dunia ini terasa kelabu karna mulai dari pelajar islam yang sebagai bibit bangsa hingga pemimpinnya sudah bisa dibilang kacau tak karuan. Bisa dikatakan mau jadi apa islam pada periode sekarang ini. Kenyataannya yang terasa saat ini kejahatan dan segala hal yang buruk telah menjadi begitu indah sebagaimana dengan harapan dari syetan terkutuk sesuai firman allah swt dalam Q.S. Al- Hijr (15) ayat 39.

Harapan terbesar untuk pelajar islam saat ini yaitu agar para pelajar islam kembali membuka cakrawala tentang islam, mendekatkan diri kepada allah, menggali potensi diri. Karna betapa banyak yang harus diperbaiki dari jiwa pelajar islam pada saat sekarang ini, apalagi islam pada saat sekarangjauh dari apa yang diharapkan. Jiwa islam kini semakin pudar, luntur sudah pelajar islam yang seharusnya dijadikan tameng bagi pondasi bangunan islam, ternyata itu hanyalah harapan kosong dan akan menjadi sebuah harapan kosong jika tidak dirubah sesuai dengan kodrat pelajar islam yang sebenarnya.

Pelajar islam yang diharapkan oleh keadaan dunia yang berubah dari keislamannya saat ini adalah bukan hanya sebagai penerus bangsa saja. Melainkan juga sebagai pelurus bangsa yang dapat mengubah dan menggantikan paradigma kezaliman negeri ini yang hampir penuh dengan bintik hitam kesesatan. Pelajar sebagai generasi muda adalah generasi masa depan yang ditangan mereka-lah terletak kejayaan atau keruntuhan umat dan mengenai pengetahuannya, agamanya, dan ahlaqnya dikhawatirkan mereka akan menjadi pecundang agama, perusak tatanan sosial dan sampah masyarakat.

Kini, sungguh memprihatinkan bila kita melihat keadaan generasi muda kita. Mereka sudah banyak yang terkontaminasi dengan kebudayaan barat yang memuja pada kebebasan hawa nafsu dan materi, maka jangan heran bila melihat disekitar kita banyak remaja yang menganut gaya hidup pergaulan bebas, pesta sexs, dan narkoba  sudah merupakan hal yang wajar dilakukan oleh para pelajar. Tawuran antar pelajar atau mahasiswa pun sudah menjadi menu berita di TV sehari-hari. Inilah sekilas gambaran rendahnya moral generasi muda kita, meskipun tidak sedikit diantara mereka yang berhasil menghasilkan karya ilmiah dan berakhlak mulia, serta taat menjalankan ajaran agamanya. Tetapi keadaan ini masih begitu memprihatinkan.

Dengan kondisi yang seperti ini, pemerintah seharusnya tidak hanya memperhatikan masalah peningkatan kualitas secara intektual, melainkan yang terpenting saat ini adalah peningkatan masalah emosional dan spiritual. Pendidikan karakter menjadi gerakan nasional mulai tahun ajaran 2011/2012 yang diproklamirkan langsung Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang diharapkan bisa menjadi solusi ditengah permasalahan yang tengah dialami bangsa Indonesia yang mayoritas beragama islam. Akan tetapi pendidikan karakter tersebut akan terasa lengkap jika diiringi dengan motivasi dalam diri pelajar itu sendiri. Sehingga diharapkan pelajar islam bisa meneruskan cita-cita bangsa, agar islam bisa jaya kembali sesuai dengan yang dicita-citakan.


Kurnia Puspita Sari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2015 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univeristas Bung Hatta. 

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com Jika mengkopi-paste tulisan ini disitus, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link secara utuh.

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar